Tragedi Cina Benteng

October 29, 2006

Tragedi Cina Benteng

–>

Mardiyah Chamim

Kampoeng Djoearingan, Tangerang, Juni 1946. Ternjata di sini banjak orang-orang lelaki jang telah diboenoeh, samentara tida sedikit gadis-gadis telah diperkosa oleh itoe sekawanan srigala beroepa manoesia.

Kutipan di atas diambil dari Star Weekly, 23 Juni 1946. Koran mingguan yang dikelola wartawan keturunan Tionghoa ini memotret tragedi kerusuhan Tangerang, Jawa Barat, Juni 1946, yang menimpa etnis Cina. Sedikitnya ada lima desa, yakni Rajeg, Gandu, Balaraja, Cikupa, dan Mauk, yang dilaporkan membara. Perkampungan Cina di wilayah itu diobrak-abrik massa. Puing-puing berserakan di sana-sini. …sedari bebrapa hari jang laloe semoea roemah-roemah orang Tjina dibakarin oleh Lasjkar Rajat. Sebagian orang Tjina diboenoeh, jang laen melariken diri, tida taoe pergi ka mana, kata seorang penduduk pribumi.

Tangerang, sekitar 30 kilometer dari Jakarta, saat itu bergolak karena disulut kabar santer: ada tentara Nica beretnis Tionghoa yang menurunkan bendera merah-putih dan menggantinya dengan bendera Belanda. Seperti bensin menyambar api, kabar ini kontan meluas dan memicu kemarahan. Apalagi ini zaman perang kemerdekaan. Republik yang belum genap setahun harus menghadapi serbuan tentara Belanda. Dan ada ketegangan sosial: di wilayah itu, ada sejumlah tuan tanah Tionghoa yang berhadapan dengan penduduk. Meskipun tak semua keturunan Cina kaya. Puncaknya, tersiar kabar, seorang Nica Tionghoa membakar rumah warga pribumi. Ini sebab-sebab menimbulken rajat Indonesier poenja goesar, hingga timboellah itoe tragedi Tangerang, tulis Rosihan Anwar dalam Harian Merdeka, 13 Juni 1946.

Laskar Rakyat yang marah lalu menangkapi para lelaki keturunan Cina. Mereka digiring ke Penjara Mauk. Tanggal 3 Juni 1946, penjara yang berukuran 15 x 15 m itu dipenuhi sekitar 600 lelaki Cina dari seantero Tangerang. Mereka, banyak diantaranya petani miskin, disekap dengan perlakuan yang memprihatinkan. Malam tida ada lampoe. Orang kentjing dan boewang aer deket soemoer, hingga tempat di sakiternya penoeh kotoran, dan joestroe soemoer itoe poenja aer diboeat minoem, minoemnja dengen bereboetan, tutur seorang korban penyekapan yang diwawancarai Star Weekly.

Kabar mengenaskan ini segera menyebar ke Jakarta. Kaum keturunan Cina tergedor hatinya. Senin, 10 Juni, sekitar 40 pemuda Tionghoa yang tergabung dalam Poh An Tui bergerak ke Tangerang menolong para Hoakiau yang terancam jiwanya. Mereka dibekali senjata api dan dibagi dua kelompok. Yang pertama datang ke Mauk dan membebaskan tawanan. Kelompok lain menyaksikan reruntuhan sejumlah desa yang banyak dihuni etnis Cina. Tercatat, sekitar 2000 warga keturunan diungsikan ke Jakarta.Ada yang dinaikkan truk dan sebagian besar berjalan kaki.

Dari rombongan pengungsi inilah diperoleh kabar tak sedap: terjadi penyerangan seksual atas perempuan etnis Cina. Tidak ada data statistik yang jelas, hanya dikatakan bahwa tidak sedikit perempuan Tionghoa yang diperkosa. Seorang anggota Poh An Tui bersaksi bahwa ia telah bercakap-cakap dengan perempuan yang anaknya jadi korban perkosaan. Anak gadis perempuan itu, yang baru berusia 13 tahun, diperkosa di hadapan ayah-ibunya. Ketika ajahnja itoe nona tjoba mentjega, dengen boeas ia laloe diboenoeh di depan mata ia poenja istri dan gadis itoe, kata si pemuda.

Ihwal kekerasan seksual itu akhirnya tak terungkap jelas. Hanya saja, sebuah advertensi yang dimuat Star Weekly, 9 Juni 1946, menyerukan hari berkabung untuk ratusan atawa ribuan Hoakiau -disebut Cina Benteng– yang tewas di Tangerang. Bisa jadi, iklan itu dilebih-lebihkan. Tapi, tak satu pun sumber yang menyebut dengan pasti berapa jumlah korban sesungguhnya, termasuk korban penyerangan seksual.

Tak lama setelah tragedi itu meledak, pemerintah mulai turun tangan. Menteri Penerangan M. Natsir meninjau lokasi kerusuhan bersama beberapa wartawan. Namun, fakta otentik peristiwa itu tetap gelap. Setahu saya tak ada perkosaan, hanya rumah-rumah mereka yang dibakar. Pengikut Poh An Tui yang pro Nica dibunuhi rakyat, ujar Rosihan Anwar, saat dikonfirmasi Edy Budiyarso dari TEMPO. Ironisnya, kesalahan serupa terulang lagi 52 tahun kemudian. (advokasi.com)

9 Responses to “Tragedi Cina Benteng”

  1. togu said

    saya sampai ga tau harus ngasih comment apa stlah membaca postingan ini. yg jelas pemerintah memang tidak bertindak adil dalam hal ini. semua fakta ditutup2i dan dibuat kabur sehingga masyarakat umum jadi bertanya2 benarkah terjadi pemerkosaan dan pembunuhan terhadap etnies cina dalam tragedi kerusuhan Mei 1998?
    Disatu sisi kita tidak bisa sepenuhnya menimpakan kesalahan ke pemerintah dan penduduk pribumi serta orang cina sendiri. semuanya ini, hemat saya merupakan warisan dari kompeni belanda yaitu politik divide et impera (kalo ga salah ingat), yaitu merupakan politik adu domba yg dilancarkan oleh VOC jaman penjajahan dulu untuk melemahkan posisi etnis cina yg kala itu sudah memegang kuat sektor ekonomi, agar jangan sampai power etnis cina di bidang ekonomi nantinya bisa merambah ke bidang politik. Yg lantas dengan senang hati di copy oleh pemerintahan orde baru juga untuk mengontrol etnis cina, sehingga apabila dinilai mulai membahayakan kepentingan pemerintah atau untuk mengalihkan perhatian publik dari pemerintah, dihembuskanlah isu2 rasialis yg celakanya tiada lain dari jaman penjajahan sampai ke jaman Indonesia sudah merdeka lebih dari setengah abad masih juga jatuh ke etnis cina yg sudah hidup lebih dari tiga abad di bumi pertiwi ini dan yg juga sudah bahu membahu dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.
    Akhir kata….marilah kita bahu membahu dalam membangun negeri kita yg tercinta ini, jangan sampai hal2 seperti masalah rasial malah nantinya menghancurkan negeri ini sendiri dari dalam.

  2. hikmah said

    Satu hal yang ingin saya katakan disini. Insya Allah seandainya saya bisa,,saya akan mengambil topik ini untuk thema sripsi saya.

  3. Semoga pluralitas diartikan sebagai warna baru yg memperindah kehidupan masyarakat majemuk. Bukan sebaliknya!

  4. Fiki said

    Ternyata masih banyak orng yang bertingkah laku seperti binatang….Saya tida bisa bicara apa-apa lg stlah membaca ini.. ternya jg pemerintah lbh mementing kn dri pribadi dari pada korban-korban itu.

  5. Fiki said

    ………………?????????????????????????????…………………….???????????????????

  6. kuya KAPOK said

    EMANG “CINA” ITU SELALU DI TUMBAL SEPERTINYA UNTUK SYARAT LANGGGENGNYA SUATU KEKUASAAN

  7. opeh cyank anita said

    menurut kesaksian kakak saya banyak orang cina yg di bunuh di jawaringan cikupa tempat pembunuhan itu sekarang sudah di bangun perumahan citra raya

    mw informasi yg jelas datang ke kp.bubulak rt03/03
    kel. mekar bakti kec. panongan – tangerang
    tanya rumah opeh ontel

  8. kamal mahdi said

    Semoga gg ada lagi hal seperti itu d zaman skarang
    Di mana pendidikan di utamakan mengajarkan kita tuk saling tenggang rasa
    Saling menghargai menghormati antara etnies,agama,Ras masyarakat yg berbeda

    Salam
    Bhineka tunggal ika

  9. lookman said

    Seharusnya pemerintah lebih serius dalam menangani kasus tersebut, tak dapat di pungkiri banyak etnis Tionghoa banyak berjasa untuk kemerdekaan indonesia sebut saja Djiau Kie Siong seorang Tionghoa yang rumahnya di Rengasdengkolok, karawang jadikan tempat Bung Karno dan Bung Hatta di tempatkan sebelum Proklamasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: