Mahalnya biaya pendidikan: Makin Banyak Anak Putus Sekolah

October 29, 2006

Yogyakarta (Kedaulatan Rakyat: 02/05/06) GUNA meningkatkan kualitas pembelajaran, pemerintah dan berbagai lembaga yang berkecimpung dalam dunia pendidikan selalu berusaha melakukan inovasi. Namun hampir seluruh inovasi yang dilakukan seakan membentur tembok dan mengalami kegagalan.

Banyaknya aturan yang dibuat dan harus ditaati siswa menyebabkan mereka selalu diliputi rasa takut. Lebih jauh lagi anak akan kehilangan kebebasan berkreasi dan melakukan kontrol diri. Untuk itu, ‘Hari Pendidikan Nasional’ yang selalu diperingati setiap 2 Mei merupakan momentum tepat untuk melakukan introspeksi diri terhadap berbagai persoalan pendidikan yang ada di tanah air.

Drupadi Lingga Rarastiti, siswi kelas II IPS 2 SMAN 10 Yogyakarta mengatakan, dunia pendidikan di Indonesia masih perlu dibenahi dan melakukan introspeksi diri. Sebab jika dikaji secara mendalam, sistem pendidikan lebih berorientasi pada hasil. Bahkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diharapkan bisa meningkatkan kompetensi siswa dan menjadi solusi bagi dunia pendidikan, ternyata tidak seperti yang diharapkan.

Masih adanya beberapa guru yang cenderung mendikte dan kurang percaya pada kemampuan siswa menjadikan persoalan ini semakin bertambah rumit. Padahal jika hal itu dibiarkan berlarut-larut, selain siswa tidak nyaman dalam belajar, kreativitas mereka tidak bisa berkembang secara maksimal. Untuk itu, di samping bekal akademik, guru harus memantau dan memahami perkembangan peserta didik. Hal itu akan bisa terwujud jika guru memposisikan diri sebagai orangtua atau sahabat.

“Pada prinsipnya sistem pendidikan di Indonesia sudah baik. Meski begitu dunia pendidikan masih perlu berbenah diri. Kurikulum yang cenderung berubah-ubah dan terbatasnya SDM yang profesional menjadikan hasil yang diperoleh tidak maksimal. Untuk itu dukungan dan kerja sama yang sinergis dari berbagai pihak mutlak diperlukan,” kata Ketua OSIS SMA 10 itu.
Hal senada juga dikemukakan oleh Sofia Pranicipta, siswi kelas III IPA SMAN 8 Yogyakarta.

Menurutnya, secara umum dunia pendidikan di Indonesia masih perlu dibenahi. Adanya kenaikan standar kelulusan dan kurikulum yang cenderung berubah-ubah secara tidak langsung menimbulkan keresahan di kalangan siswa. Ironisnya, guru yang diharapkan bisa menjadi motor penggerak dalam proses pembelajaran terkadang masih mengalami kesulitan untuk menerapkan kurikulum yang baru.

Akibatnya, kurikulum baru yang diharapkan bisa meningkatkan kualitas lulusan justru menimbulkan persoalan baru bagi dunia pendidikan.

“Hari pendidikan nasional merupakan momentum yang tepat untuk melakukan introspeksi diri terhadap berbagai persoalan yang ada. Sebab jika dikaji dengan seksama pendidikan sekarang masih belum bisa memenuhi harapan Ki Hajar Dewantara. Bahkan masih ada siswa yang dimarahi guru karena tidak bisa mengerjakan tugas. Meski begitu menyerahkan tanggung jawab pendidikan 100 persen pada guru juga kurang baik. Jadi yang perlu dilakukan sama-sama introspeksi diri dan mencari solusi yang terbaik,” papar Sofia.

Yoga Satriowiwoho, siswa kelas I SMPN 8 Yogyakarta menambahkan, mahalnya biaya pendidikan dan kurikulum yang cenderung berubah-ubah, merupakan persoalan pendidikan yang perlu segera ditangani. Untuk mewujudkan hal itu selain sarana dan prasarana yang memadai, anggaran untuk sektor pendidikan perlu ditambah. Sebab kondisi perekonomian yang tidak stabil dan kenaikan harga BBM beberapa bulan yang lalu menjadikan biaya operasional pendidikan meningkat. Mahalnya biaya pendidikan yang tidak sebanding dengan daya beli masyarakat menyebabkan jumlah anak putus sekolah semakin banyak.

“Di zaman yang sudah serba canggih dan modern seperti sekarang, masih banyak anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah dengan alasan biaya. Adanya fenomena tersebut bisa dijadikan salah satu indikator, banyaknya PR dalam dunia pendidikan. Untuk itu selain SDM yang berkualitas akan lebih bijaksana jika anggaran pendidikan nasional ditambah,” katanya. (Sampoernafoundation.org)

18 Responses to “Mahalnya biaya pendidikan: Makin Banyak Anak Putus Sekolah”

  1. Bo said

    Sebaiknya disertai data-data, sehingga–meskipun bukan merupakan hasil penelitian, akan terasaa lebih ilmiah dan dapat dijadikan referensi oleh pembaca lain.

    Thanks

  2. Mahalnya biaya pendidikan makin menambah buram potret pendidikan di negeri ini. Kini, ketika PSB mulai dibuka, banyak orangtua di Sumse juga dibelit permasalahan serupa. Biaya masuk sekolah mahal, banyak pungutan lain berdalih untuk penambahan keterampilan juga terus terjadi. Pemerintah hendaknya tegas dalam mengatur masalah ini. Sebab lagi-lagi rakyat miskinlah yang jadi korban, makin jauh akses mereka untuk memperoleh pendidikan. Bukankah sebenarnya itu hak mereka juga.

    Sarono Putro Sasmito
    Pemimpin Redaksi Buletin Suara Pendidikan Kabupaten Ogan Ilir Sumsel; ISSN:1978-3191
    Redpel Tabloid Desa Palembang Sumsel
    Website:www.tabloid-desa.com
    HP 08153801762

  3. cinta monyet !!! said

    biaya sekolah ko tetap mahal siii???

    apalagi biaya buku pelajaran yng tiap tahun pasti ganti…

    gimana mau berkurang angka anak putus sekolah??? orang biaya aja masih mahaaalllll geeelllllllooooooooooooooooo …

  4. yap setuju bgt sama bo,data tu penting.lagian aq lagi butuh data ntu…help me…

  5. struggler said

    masih banyak borok-borok yang masih belum diungkap dalam dunia kita, dunia pendidikan. Pendidikan sekarang barang mewah, atribut-atributnya penuh dengan kepentingan uang, penguasa. tidak usah munafik, sekarang pemerintah blm becus atasi masalah, bahkan semakin terlihat kemana sebetulnya arah pemerintah, pro pemilik modal, swasta, atau pro-rakyat? mari selidiki lagi masalah UN, seragam siswa SD-SMU, kurikulum, semua penuh dg kerancuan….kalau dibiarkan terus bangsa ini akan semakin bodoh, tak acuh dan semakin pantas jadi budak. Jangan sampai terjadi!!!! Lawan!!!

  6. aku anak indonesia said

    ayoooooo sekolah………………..

    pak presiden….
    pak mentri……….
    pak gubarnur…….
    pak wali kota…..
    pak lurah……….

    AKU INGINNNNNNNNNNNNNN SEKOLAHHHHHHHHH YAAAAANGG
    TINNNNNGGGGIIIIIIII,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, TAPI……..
    JGN BIKIN BIAYA SEKOLAH MAKIN TINGGI………!!!!!!!!!!!!!!11

  7. pengais ilmu said

    AKu mewakili anak anak yang mesti sekolah sambil disertai dengan bekerja guna meringankan beban orang tua yang kurang mampu. Tapi tidaklah mudah karena selain harus berkonsentrasi untuk belajar kita harus juga dituntut untuk mencari uang. Terus juga tidak disertainya biaya sekolah yang sampai mencekik leher orang yang tidak mampu. Padahal kita ini berupaya agar tidak menjadi orang yang buta akan pendidikan.
    Tapi itu palsu jika tidak ada biaya yang mumpuni

  8. ita said

    Biaya pendidikan mahal jangan dijadikan alasan untuk tidak berprestasi. banyak sekolah-sekolah non formal yang dapat ditempuh untuk menambah IP dan ketrampilan yang berguna untuk survive di masyarakat. Sekarang semua serba mahal dan sulit, hanya orang yang dapat memanfaatkan kesempatan yang dapat hidup dengan nyaman. Ayo Semangat!!!

  9. zen said

    biaya kuliah mahalllllllllllllllll
    duh kasian banget ya yg biayain…
    Tapi jgn di jadiin alasan buat bkn masy indo malas bwt bljr y, semuanya pasti ada jalan keluarnya, tp sampai saat ini aku ndiri jg blm nemu, hh_hh he33333333333x

  10. basir chabir muhammad said

    12 juta anak indonesia bisa sekolah, kalo dana skandal BLBI dikembalikan untuk membiayai pendidikan anak putus sekolah ini.
    di sulawesi selatan gubernur yang terpilih mencanangkan pendidikan gratis dari sd sampai smp, tapi diberlakukan secara bertahap sampai akhir jabatannya baru keseluruhan biaya pendidikan gratis, artinya sama aja bohong pak gubernur. sekalian daftar lagi calon kemudian program pendidikan gratis lanjutan.
    ya namanya juga janji kampanye, selamat anak Indonesia belum bisa sekolah gratis karena hanya janji 10x tetap janji.

  11. Nia said

    Bagaimana upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di indonesia? Bukankah setiap warga negara Indonesia berhak mendapat pendidikan yang layak dan gratis. Bagaimana bangsa mau maju kalo semua diukur dengan materi? karna belum tentu orang berduit mempunyai otak segenius orang yang kurang beruntung yang masa depannya terabaikan pemerintah. Bagaimana nasib bangsa bila generasi muda turun drastis dalam pengembangan ilmu dan pengetahuannya. Bagaimana Indonesia dapat menyaingi negara-negara maju seperti Amerika jika taraf pendidikan tetap statis!

  12. Miss. Shinery said

    Ya Ampyun. . . Kenapa biaya sekolah kok mahal banget ??? Banyak anak yang putus sekolah gara-gara gak mampu bayar biaya sekolah yang mahal, padahal kan kita-kita inilah penerus bangsa… gimana negara bisa maju kalo penerus bangsanya aza gak sekolah…. Hai pemerintah , ayo dong buka mata kalian…gratisin biaya pendidikan

  13. ichaaa said

    katanya biaya sekolah gratis dari sd mpe smp tapi mana buktinya….!!!!!!!!!!!……payah!!!!!! nyatanya masih banyak anak jalanan yang tidak sekolah karena tidak punya biaya….

  14. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

  15. HANY said

    Maap ya pak PRESIDEN
    EMANG BIAYA PENDIDIKAN SEKARANG MAHHHHAAALLL!!!
    TAPI FASILITAS YANG DIBERIKAN KOQ G TAMBAH MAHAL N MAJU YA ????

  16. inNaCh_LUV said

    saya juga berfikir kesitu….

    bagaimana seseorang mau santai atau nikmati sekolah kalau saja
    dihantui dengan BIAYA SEKOLAH….

    klo begitu jadinya bisa bikin PUCING….
    CUAPE’ DECh…

    so!!!!
    buAt permerintah turunini dikit dong HARGA PENDIDIKAN….
    biar kita biza nyantai and ga’ pucing klo mau SEKOLAH TINGGI…..

  17. salam..
    sebenarnya kalau pengelolaannya bagus, transparansi keuangan lebih riil tidak menimbulkan paradigma salah, maka pendidikan akan lebih terkontorl. begitupun mahalnya pembiaayaan yang semakin membengkak menjadi sandungan besar bagi orang tua siswa yang hendak menyekolahkan anaknya.saya memberi solusi bagi orang tua yang mau menyekolahkan anaknya,
    pertama: cek dulu kebenaran tanggungan yang dimintai pihak sekolah. hal ini hanya untuk membuktikan kebenarannya.
    kedua: mestinya ada sosialisai antara orang tua, guru dan pihak diknas terkait.
    ketiga : waspadai pungutan liar yang mengatasnamakan biaya “pembangunan”.
    keempat: evaluasi berkala atau mintai transparansi keuangan. jangan sampai timbul benih-benih korupsi kecil tumbuh di dunia pendidikan.apalagi sekarang oprasional sekolah didanai oleh pemerinta. yang disebut dengan BOS.
    kesemuanya ini menjadi bahan evaluasi semua sektor yang terkait dalam dunia pendidikan.semua berharap agar ada kontrol yang ketat dari semua pihak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: