Rapuhnya Anak Jalanan Perempuan

October 27, 2006

Rapuhnya Anak Jalanan Perempuan
Oleh : Wahju Budi Santoso

Anak adalah amanah. Islam mengajarkan bahwa anak bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi masyarakat bahkan juga negara. Dalam kenyataannya,
kita melihat banyak anak yang tidak mendapat perhatian yang semestinya,
sehingga mereka harus hidup di jalanan.

Krisis moneter yang berlanjut dengan krisis ekonomi, kemudian meluas menjadi krisis multidimensi, mengakibatkan semakin banyak anak-anak usia sekolah terkena dampaknya. Banyak diantara mereka tidak bersekolah lagi, karena orang tua mereka terkena pemutusan hubungan kerja.

Meskipun krisis ekonomi bukan satu-satunya penyebab terbengkalainya pendidikan anak-anak usia sekolah, namun ada korelasi kuat semakin luasnya krisis ekonomi diikuti pula oleh makin banyaknya anak-anak tidak berada di ruang sekolah lagi. Pada jam-jam sekolah, mereka berhamburan di mana-mana, bahkan di jalanan. Tidak bisa tidak, angka anak jalanan meningkat tajam.

Siapa Mereka?
Salah satu masalah krusial dari meningkatnya jumlah anak jalanan adalah bahwa diantara mereka tidak sedikit anak perempuan. Mereka berumur antara 4 sampai dengan 18 tahun, berada di jalanan untuk hidup bebas, lari dari keluarga/rumah atau untuk mencari tambahan pendapatan keluarga dengan menjadi pengamen, pemulung, pengasong, pengemis, dan lain-lain. Meskipun demikian mereka bukan penjaja seks jalanan. Penelitian Departemen Sosial (Depsos), Universitas Atmajaya Jakarta, SET Production (sebuah rumah produksi) dan ADB (Bank Pembangunan Asia) tahun 2000 menunjukkan 79,2% anak jalanan perempuan berada pada umur wajib belajar (wajar) sembilan tahun.

Disamping faktor ekonomi keluarga yang rendah, adanya anggapan bahwa anak perempuan harus mengalah dengan saudara laki-lakinya serta lebih banyak berkorban untuk keluarga, merupakan faktor pendorong anak perempuan banyak turun ke jalan. Penelitian di atas menunjukkan bahwa sebagian besar (41,9%) anak perempuan turun ke jalanan untuk membantu menambah pendapatan orang tua baik atas kesadaran sendiri maupun disuruh orang tua.

Pada kelompok umur di bawah 7 tahun jumlah anak jalanan perempuan tiga kali lipat dari jumlah anak jalanan laki-laki. Semakin bertambah umurnya, perbandingan tersebut bergeser dan jumlah anak jalanan laki-laki menjadi dua kali lipat dari jumlah anak jalanan perempuan. Gambaran tersebut mengindikasikan bahwa jalanan bukanlah tempat yang nyaman apalagi anak perempuan. Hidup di jalanan bagi anak perempuan adalah sebuah “pilihan terakhir” yang penuh risiko.

Rentan
Anak jalanan perempuan kiranya perlu mendapat perhatian yang serius. Ada tiga predikat sekaligus yang mereka sandang; anak, perempuan dan jalanan.

Sebagai anak, mestinya mereka memperoleh ruang dan waktu yang kondusif untuk perkembangan fisik maupun psikis secara wajar. Anak yang seharusnya mendapat perlindungan, kini harus bersandar pada dirinya sendiri tanpa ada yang memberikan perhatian maupub perlindungan. Di rumah mereka harus melindungi diri dari orang tua dan keluarga, di jalanan harus melindungi diri dari masyarakat bahkan dari aparat.

Mereka juga harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, mulai dari makan, minum, istirahat, bermain, berlindung, hingga pada saat sakit sekalipun. Sebagai perempuan, dari sisi gender mungkin mereka mampu mengatasinya, namun perbedaan kodratinya menyebabkan anak jalanan perempuan sangat rentan terhadap kekerasan seksual.

Jalanan bukanlah tempat yang aman dan nyaman apalagi bagi anak perempuan. Dengan mitos bahwa perempuan – apalagi anak perempuan – adalah makhluk yang lemah, maka risiko yang paling banyak mereka terima di jalanan adalah diperas, di-palak, ditodong, dieksploitasi. Dan sebagai perempuan, risiko pelecehan dan kekerasan seksual tidak dapat dihindari, karena di kehidupan jalanan tak ubahnya seperti hukum rimba; yang kuat, dia berkuasa. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa anak jalanan (laki-laki maupun perempuan) paling lama hanya dua hari pertama selamat dari pelecehan seksual. Jumlah anak jalanan perempuan yang mendapatkan risiko pelecehan seksual, masih menurut penelitian di atas sebanyak 3,7%. Suatu angka penderitaan yang cukup tinggi.

Tanpa atau dengan Persetujuan
Hubungan seksual antara “warga” anak jalanan bisa terjadi pada dua kondisi, yaitu tanpa persetujuan atau dengan persetujuan.

Untuk kasus tanpa pesetujuan, baik pelecehan seksual maupun perkosaan, sudah bukan rahasia lagi bahwa pelakunya adalah orang dekat bahkan orang yang seharusnya melindungi. Dan yang sangat mengejutkan mereka adalah aparat pembina dan bahkan aparat keamanan (PKBI DKI, YPSI, Unicef, 1997). Hal ini terjadi pula terhadap anak jalanan perempuan.

Mereka mengalami bermacam bentuk perlakuan pelecehan seksual dari yang ringan hingga yang berat.

Pengakuan Is (14 th) di Palembang bahwa dadanya dipegang-pegang, pantatnya ditepuk, dipeluk secara paksa oleh preman masih termasuk pelecehan seksual ringan bagi anak jalanan perempuan (Potret Anak Jalanan Perempuan, Depsos, 2000).

Namun demikian, perkosaan tetap merupakan suatu yang paling ditakuti oleh anak jalanan perempuan, sekalipun kehidupan seksual di jalanan sangat permissif dan nyaris tidak ada hukum maupun norma yang bisa melindungi mereka.

Pada kasus hubungan seksual dengan persetujuan, yang dilakukan dengan suka sama suka, jumlahnya cukup banyak. Hasil penelitian Depsos cukup mengejutkan. Bahwa mereka telah melakukan hubungan seks berumur antara 10-18 tahun, berhubungan dengan sesama teman, bertempat di bangunan-bangunan kosong, gerbong kereta api, dengan pasangan tetap atau berganti pasangan. Perilaku tersebut bukan untuk mencari uang, melainkan karena kehidupan yang bebas. Pada saat berganti-ganti, pasangannyapun orang yang tidak jauh dengannya; sudah lama dikenal dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun bebas, mereka masih juga tidak asal berganti pasangan.

Dengan kehidupan seksual seperti itu, mau tidak mau mereka sangat rentan terhadap penyakit menular seksual (PMS), suatu penyakit yang berisiko tinggi terhadap kesehatan reproduksi, berpengaruh buruk baik pada dirinya sendiri maupun keluarganya keluarganya kelak. Kebutuhan mereka Hidup di jalanan bukanlah pilihan bagi siapapun, tak terkecuali bagi anak perempuan. Sejelek-jelek rumah, ia masih merupakan tempat yang lebih nyaman. Memang sebagian besar (83.1%) anak jalanan perempuan masih tinggal bersama orang tua, artinya setiap hari atau secara berkala pulang ke rumah. Namun “rumah” bagi mereka tidak bisa dibandingkan dengan rumah seperti yang dipahami orang pada umumnya. Meskipun mereka punya orang tua – yang berarti punya “rumah” – namun bukan berarti mereka secara otomatis bisa mendapatkan kedamaian keluarga. Rumah bagi mereka tidak berarti kebutuhan hidupnya bisa terpenuhi dengan baik.

Andai telah terpenuhi kebutuhannya, tentu mereka tidak akan berkeliaran di jalanan. Sebab risikonya terlampau berat untuk dipikul oleh seorang anak perempuan yang sama sekali tidak memperoleh perlindungan dari lingkungan aparat keamanan.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, ada lima besar kebutuhan anak jalanan perempuan, yaitu makanan, pakaian, sekolah, rumah dan modal usaha. Terlihat bahwa pilihan kebutuhannya berturut-turut sejak kebutuhan primer bergerak ke kebutuhan masa depan. Ini hanya bisa diartikan satu hal: jangankan untuk kebutuhan sandang dan masa depan, untuk kebutuhan makan dan pakaian saja mereka masih menghadapi persoalan serius.

Persoalannya menjadi lebih krusial karena kebutuhan-kebutuhan di atas harus mereka usahakan sendiri tanpa bantuan orang lain. Alih-alih mendapat bantuan, mereka justru menjadi obyek pemerasan dan pelecehan seksual. Negara tidak mampu menyelesaikan bukan hanya karena kecilnya anggaran untuk mereka, tapi juga karena penyelesaiannya tidak menyentuh persoalan paling mendasar dari kebutuhan mereka. Sehingga anak jalanan terus bertambah, termasuk anak jalanan perempuan. Bagi umat muslim, hal ini mestinya menjadi kesadaran religius untuk turut mengatasinya sekecil apa pun bentuknya.]

Sumber: http://www.rahima.or.id

2 Responses to “Rapuhnya Anak Jalanan Perempuan”

  1. jonathan said

    mari kita saling peduli dengan kehidupan anak jalanan

  2. RAI said

    kebetulan saat ini saya sedang meneliti ttg kekerasan seksual anak jalanan. ADa yang mau berbagi informasi?….khususnya ttg instrumen wawancara thd anak jalanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: