Masih Banyak Anak Putus Sekolah

September 17, 2005

Masih Banyak Anak Putus Sekolah

”Lebih baik begini saja, bekerja. Lulus SMP belum tentu mendapat pekerjaan,” tutur Sherly (14), gadis warga Kelurahan 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang.

Sherly putus sekolah sejak Januari 2005. Ia memutuskan berhenti sekolah karena sulit membagi waktu antara bekerja dan sekolah. Sehari-hari perempuan ini berjualan minuman di Plaza Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, pukul 09.00-22.00.

Berjualan minuman dilakoninya sejak September 2004. Ketika itu ia masih duduk di bangku kelas III SMP. Tetapi, setelah bekerja, ia mengaku tidak bisa lagi membagi waktu untuk belajar. Ia pun memutuskan berhenti sekolah.

Lain lagi dengan Desi Ratnasari (13), warga Kelurahan 5 Ulu. Gadis kecil ini memiliki keinginan menggebu untuk bersekolah. ”Aku ingin sekolah lagi. Kalau nanti bisa sekolah, jualannya sepulang sekolah saja,” tutur Desi dengan mata berbinar.

Sejak Mei 2005, Desi terpaksa putus sekolah karena orangtuanya tidak mampu membiayai. Selama berhenti sekolah, Desi menjajakan minuman di Plaza BKB. Di tempat inilah Desi mengadu nasib bersama beberapa anak sebaya yang bernasib tak jauh berbeda.

Kisah anak putus sekolah memang bukan persoalan baru di Sumatera Selatan. Di Palembang, tercatat 250 siswa SD dan 553 siswa SLTP yang putus sekolah selama tahun ajaran 2004/2005. Sementara jumlah anak yang tidak melanjutkan ke SLTP dan SLTA sebanyak 26.643 orang atau mencapai 24,04 persen dari lulusan SD.

Kepala Subdinas Pembinaan Pendidikan Menengah dan Perguruan Tinggi Dinas Pendidikan Nasional Sumatera Selatan Baharuddin Noer mengakui, pengentasan wajib belajar sembilan tahun adalah hal yang sulit. Beberapa faktor, seperti kemiskinan ekonomi dan letak rumah yang sulit dijangkau, menyebabkan wajib belajar sulit dilakukan.

Faktor lainnya, keengganan siswa untuk melanjutkan sekolah karena masa depan yang tidak menjanjikan. ”Pengangguran sarjana seakan menjadi momok bagi anak. Mereka malas melanjutkan sekolah. Bisa membaca dan menulis dianggap cukup, padahal pendidikan sekolah tidak hanya untuk membaca dan menulis, tetapi membuka pikiran,” katanya.

Kepala Subdinas Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Palembang Bukman Lian mengatakan, pihaknya tengah membuka dua kelas layanan khusus untuk siswa SD yang putus sekolah, yaitu di SD Negeri 272 Kertapati dan di kawasan Plaju. Siswa putus sekolah yang terdaftar di SD Negeri 272 sebanyak 22 siswa untuk kelas I-VI SD.

Pihaknya menargetkan jumlah siswa di kelas layanan khusus minimal 20 siswa kelas I-VI SD. (BM Lukita Grahadyarini) (KCM, 16/09/05)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: