Ekonomi Rakyat (Tetap) dalam Bahaya

November 29, 2004

Ekonomi Rakyat (Tetap) dalam Bahaya

Dalam editorial JER bulan Oktober diajukan beberapa pemikiran “antisipatif” tentang perubahan-perubahan kebijaksanaan ekonomi yang kiranya akan terjadi dan diambil pemerintah baru “SBY-Kalla”. Dengan mempelajari kembali “Visi, Misi, dan Program” berjudul “Membangun Indonesia yang Aman, Adil, dan Sejahtera” (Mei, 2004), rakyat pemilih percaya akan terjadi perubahan-perubahan “radikal” dalam perlindungan terhadap ekonomi rakyat. Misalnya dalam dokumen “Visi, Misi, dan Program” dinyatakan bahwa:

“Pada masa lalu mengakuan akan hak dasar rakyat mengalami reduksi. Pembangunan yang terlalu menekankan pada pengejaran pertumbuhan ekonomi juga telah melupakan keadilan dan pemenuhan hak dasar politik dan sosial rakyat.”

Untuk memenuhi janji perubahan, pemerintah “SBY-Kalla” harus tidak lagi mereduksi hak dasar rakyat, dan pemerintah tidak seharusnya terlalu mengejar pertumbuhan ekonomi sehingga berakibat terlupakannya keadilan dan pemenuhan hak dasar politik dan sosial rakyat. Inilah tantangan janji yang kiranya sulit dipenuhi ketika kita menganalisis susunan Kabinet Indonesia Bersatu. Tim ekonomi yang dibentuk di bawah Kenko Perekonomian, yang seorang pengusaha besar, dengan mencermati pernyataan-pernyataannya sebelumnya, pasti ingin tetap mengejar pertumbuhan ekonomi, lebih-lebih dengan dukungan pemikiran Menteri Perdagangan yang pernah “berserah diri” pada kekuatan-kekuatan kapitalis global. Ia secara terbuka pernah berkata, “if we can not beat them join them”. Alangkah tragis jika pemerintah SBY-Kalla yang menjanjikan perubahan terpaksa tidak akan memenuhi janjinya karena harus mengejar pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya “untuk mengatasi pengangguran”, sekaligus dalam suasana diintimidasi kekuatan-kekuatan kapitalis global yang ganas.

Dalam proses penyusunan kabinet pernah didengar ada “protes keras” agar pemerintah tidak lagi “merangkul IMF”. Pernyataan ini rupanya terpaksa hanya “setengah didengar” karena memang ancaman kekuatan kapitalis global diakui sudah amat kuat, dan kekuatan-kekuatan kapitalis dalam negeri dijadikan tumpuan harapan untuk menghadapinya di bawah koordinasi Wakil Presiden dan Menko Perekonomian, yang keduanya merupakan pengusaha nasional besar.

Pesan editorial kita kali ini adalah bahwa rakyat pemilih yang telah diberi janji akan terjadi perubahan politik ekonomi terpaksa akan kecewa berat. Meminjam judul tulisan Bung Hatta di Daulat Rakyat Januari 1934, sekarang pun jelas Ekonomi Rakyat (tetap) Dalam Bahaya.

Nopember 2004

Mubyarto/Redaksi Jurnal ekonomi Rakyat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: