Perubahan

October 29, 2004

Perubahan Satu kata ini yaitu perubahan ternyata telah menjadi modal sangat kuat bagi SBY-Kalla untuk memperoleh simpati rakyat yang kemudian benar-benar membawa pasangan ini memenangkan pemilihan Presiden/Wakil Presiden. Sekarang setelah rakyat benar-benar memberikan kepercayaan kepada Presiden/Wakil Presiden baru, apa perubahan yang akan dilakukan, dan apa saja masalah yang akan dihadapi dalam mewujudkannya?

Pakar-pakar ekonomi “konvensional” banyak yang menyatakan mustahil SBY-Kalla akan mampu mengadakan perubahan karena pemerintah sekarang, yang telah mewarisi segala kekeliruan strategi pembangunan ekonomi Orde Baru, sebenarnya telah terjebak dalam 2 perangkap yaitu utang luar negeri (dan sekarang ditambah lagi utang dalam negeri).

Perangkap lain adalah perangkap pertumbuhan ekonomi rendah. Artinya kalau tidak dapat ditemukan cara-cara ampuh untuk lepas dari dua perangkap ini, akan mustahil kondisi ekonomi-keuangan Indonesia berubah ke arah yang lebih baik. Tidak ada strategi yang lebih memberikan harapan kecuali dengan rasa percaya diri dan semangat kemandirian yang besar.

Namun yang akan amat menarik adalah aspek politik pemerintahan SBY-Kalla yang dikhawatirkan sementara pengamat akan mudah “digoyang” di DPR oleh partai oposisi (koalisi kebangsaan) yang menguasai paling sedikit 307 kursi dari 550 kursi. Agar stabil pemerintahan SBY-Kalla harus selalu waspada pada kepentingan-kepentingan politik-ekonomi “koalisi kebangsaan”. “Ancaman” partai oposisi ini akan selalu merupakan “mimpi buruk” yang mengganggu setiap pengambilan keputusan politik penting dalam bidang ekonomi dan bidang-bidang lain. Jika pemerintahan SBY-Kalla akan memenuhi janjinya mengatasi kemiskinan dan pengangguran melalui kebijakan pemberdayaan ekonomi rakyat yang harus disubsidi, misalnya terhadap petani padi dan tebu yang sangat dirugikan oleh impor beras dan gula (baik yang legal maupun illegal), maka kebijakan subsidi ini, yang dianggap populis, akan ditentang pengusaha yang tidak ingin tingkat upah meningkat karena ini menurut mereka, akan “menurunkan” daya saing industri kita. Inilah alasan “bisnis” pengusaha-pengusaha kita yang menghalangi upaya pewujudan keadilan sosial yang dicita-citakan ekonomi Pancasila.

Contoh lain adalah kebijakan tingkat bunga yang juga harus berubah dari pemihakan pada para pemilik modal menjadi lebih berpihak pada ekonomi rakyat yang sangat membutuhkan modal untuk mengembangkan usahanya. Perbankan kita selama ini selalu berusaha merangsang pemodal menyimpan uangnya di bank, dan menjaminnya agar selalu aman, tanpa memperhatikan ekonomi rakyat yang membutuhkan modal itu. Misalnya dana pihak ketiga di bank-bank di Melak, Ibu Kota Kabupaten Kutai Barat, tahun 2002-2003 rata-rata Rp. 264 milyar, tetapi yang diberikan sebagai kredit kepada masyarakat Melak hanya R. 33 milyar (LDR = 12,5%). Kemana uang masyarakat yang Rp 231 milyar ini? Ia dikirim untuk “diputarkan” di Samarinda dan Jakarta karena dengan dibelikan SBI lebih aman tidak ada resiko.

Demikian janji perubahan yang dijanjikan SBY-Kalla memang diharapkan dapat dipenuhi meskipun tentu tidak dalam periode 100 hari pertama pemerintahannya. Namun pesan dari editorial ini adalah bahwa pemenuhan janji perubahan ini tidak akan semudah membalik telapak tangan. Hambatannya akan banyak dan diperlukan “semangat tak gentar dan tekad baja”.

Selamat bekerja Pak SBY-Kalla!

Yogyakarta, 4 Oktober 2004

Mubyarto/Redaksi Jurnal Ekonomi Rakyat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: