Pengangguran Belum Dianggap Masalah Serius

March 5, 2004

Pengangguran Belum Dianggap Masalah Serius

Jakarta, Kompas – Masalah pengangguran, yang telah mencapai 39,3 juta orang, tidak dianggap sebagai masalah serius. Ini terbukti dengan belum satu pun partai politik dan calon presiden yang memiliki visi, program, dan target tentang penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya beli masyarakat, sekaligus pengurangan jumlah penganggur. Yang mencolok hanyalah pembagian uang dan kegiatan lain yang bersifat sesaat, dan bukan untuk menuntaskan masalah bangsa.

Dari kenyataan itu, dikhawatirkan Pemilihan Umum 2004 takkan membawa perubahan dan kemajuan yang signifikan bagi kehidupan masyarakat dan negara Indonesia selama lima tahun mendatang. “Jadi, kalau salah memilih pemimpin saat ini, saya yakin bangsa ini tidak selamat. Jadi, jangan sampai kita salah memilih lagi,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi di Jakarta, Kamis (4/3).

Berdasarkan data yang dihimpun Kompas, jumlah penganggur pada tahun 1997 tinggal 36,5 juta orang. Namun, setahun berikutnya bersamaan dengan krisis ekonomi, angka pengangguran melonjak mencapai 40 juta orang, lalu tahun 1999 berkurang menjadi 39,4 juta orang. Jumlah ini terus merosot dan pada tahun 2001 menjadi 36,2 juta orang. Namun, tahun 2002 jumlah penganggur membengkak lagi mencapai 38,4 juta orang, dan tahun 2003 menjadi 39,3 juta orang.

Jumlah penganggur ini, menurut Sofjan, akan terus meningkat sebab satu demi satu industri masih akan hengkang ke negara lain, seperti Vietnam dan Malaysia. Pilihan ini dilakukan investor sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang kurang memberikan iklim investasi yang kondusif dan masih sangat lemahnya penegakan hukum.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia MS Hidayat berpendapat, masalah ekonomi yang dihadapi bangsa ini sudah sangat krusial. Akan tetapi, masalah itu selalu diremehkan sehingga dunia usaha sangat berharap tim ekonomi mendatang merupakan figur-figur berbobot dan mengerti kebutuhan pelaku ekonomi. Fokus utama adalah membangkitkan ekonomi mikro, khususnya sektor riil.

Persoalannya adalah dari 145 juta pemilih, hanya 23 persen yang tinggal di perkotaan, sedangkan selebihnya adalah pemilih tradisional yang kurang peduli dengan program kerja. “Ini yang menjadi tugas berat untuk meyakinkan masyarakat agar memilih pemimpin yang mampu menciptakan iklim kondusif bagi investasi dan kegiatan ekonomi lainnya,” kata Hidayat.

Menurut Sofjan, selain pengangguran, masalah lain yang tidak kalah penting adalah pendidikan, pengelolaan sumber daya hutan, kelautan, kesehatan, dan permukiman. Bahkan, yang paling banyak beredar di Indonesia selama ini adalah barang-barang ilegal. Barang itu adalah hasil penyelundupan dari luar negeri.

Kenyataan demikian sangat tidak sehat karena di satu sisi mematikan industri dalam negeri dan meningkatkan jumlah penganggur. Di sisi lain, negara juga kehilangan pendapatan sebab tak bisa memungut Bea Masuk impor. Lebih buruk lagi, ketergantungan Indonesia terhadap barang impor makin tinggi.

Jalur ganda

Di tempat terpisah pengurus Badan Penelitian dan Pengembangan Partai Golkar Hary Azhar Azis mengatakan, penggunaan strategi efek cucuran air (trickle down effect) dalam pembangunan ekonomi selama ini terbukti gagal membangun fondasi ekonomi yang kuat. Oleh karena itu, pembangunan sistem perekonomian rakyat harus dijalankan bersamaan dengan peningkatan daya saing industri dalam negeri.

“Strategi pembangunan ekonomi yang dinamai strategi jalur ganda ini untuk menjawab strategi trickle down effect. Harapan berkembangnya ekonomi rakyat sebagai imbas pembangunan ekonomi skala besar ternyata tidak berjalan. Ini kegagalan fundamental pola yang lama,” ujarnya.

Jalur pertama strategi ini adalah pembangunan sistem perekonomian rakyat, yang sangat menderita selama krisis. Dua masalah ekonomi mendasar yang dirasakan rakyat adalah pengangguran dan kemiskinan.

Menurut Hary, sekitar 68 persen dari 100 juta tenaga kerja bergerak di sektor informal. Sebanyak 18 juta dibayar sangat minimum, bahkan tak dibayar sama sekali. Mereka inilahtutur Hary, yang perlu diberdayakan. “Ini masalah utama yang harus diselesaikan pemerintah baru hasil pemilu dalam tahun pertama pemerintahannya,” ujar Hary menambahkan.

Cara pertama yang ditawarkan melalui pendekatan fiskal, dengan memperbesar porsi anggaran pembangunan. Selama lima tahun terakhir pertumbuhan anggaran pembangunan hanya 13 persen dibandingkan dengan pembayaran cicilan pokok dan bunga utang luar negeri yang bertumbuh 65 persen.

Langkah kedua melalui kebijakan moneter dengan menghubungkan perbankan dengan sektor riil. Rasio kredit dengan dana pihak ketiga yang jumlahnya mendekati Rp 900 triliun (loan to deposit ratio/LDR) masih di bawah 50 persen. Oleh karena tidak ada hubungan, selama ini pemilik modal cenderung menempatkan dananya pada investasi portofolio, padahal investasi langsung lebih menyerap tenaga kerja.

Jalur kedua adalah peningkatan daya saing industri dalam negeri, baik milik swasta maupun badan usaha milik negara. Dikatakan, penguatan kelembagaan akan memberi sinyal kompetitif pada mekanisme pasar yang berlaku sehingga industri Indonesia bisa bersaing dengan negara lain.

Pengamat ekonomi Umar Juoro menilai, selama ini ada kesenjangan antara aspirasi masyarakat dan aktivitas politik. Partai politik sibuk dengan kepentingan internal, seperti menjalin koalisi dan pencalonan presiden, sementara rakyat dipusingkan dengan sulitnya mencari pekerjaan dan mahalnya kebutuhan pokok.

“Fokus pada perluasan kesempatan kerja dan pemberantasan kemiskinan jauh lebih diperlukan rakyat. Penyediaan lapangan kerja juga jawaban tepat untuk mengatasi korupsi karena kalau mengatasi korupsi dulu tidak akan selesai-selesai, dan penganggur terus bertambah,” ujar Umar.(jan/was) (KCM,05/05/04)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: