Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tak Disertai Perbaikan Daya Saing

August 8, 2003

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tak Disertai Perbaikan Daya Saing

Jakarta, Kompas – Prestasi perekonomian Indonesia selama semester I 2003 telah mengalami perbaikan seperti pertumbuhan ekonomi, namun pertumbuhan itu tidak diikuti kenaikan daya saing secara keseluruhan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih banyak ditentukan sektor konsumsi, padahal untuk bisa berkelanjutan, pertumbuhan harus didasarkan pada kegiatan ekonomi produktif seperti peningkatan investasi dan pertumbuhan ekspor.

Hal tersebut mengemuka dalam seminar Meningkatkan Daya Saing, Membangkitkan Optimisme Baru, yang diselenggarakan Bank BNI bersama Institute for Development of Economic and Finance (Indef) di Jakarta, Rabu (6/8). Hadir sebagai pembicara sejumlah ekonom Indef seperti Didik J Rachbini, Faisal H Basri, Dradjad H Wibowo, Didin S Damanhuri, dan M Fadhil Hasan beserta Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Rudjito.

Dalam Kajian Tengah Tahunan Indef disebutkan, sejumlah indikator ekonomi makro yang mulai stabil selama semester I 2003 seharusnya memberikan stimulus atau dapat menggerakkan roda ekonomi.

Inflasi semester I tercatat hanya 1,23 persen, atau secara tahunan (year on year) 6,62 persen. Terjadi penurunan defisit anggaran, tingkat suku bunga sertifikat Bank Indonesia (SBI). Fungsi intermediasi perbankan mulai membaik.

Namun, daya saing Indonesia di bidang lain tetap lemah. Peringkat indeks daya saing pertumbuhan memburuk dari posisi 62 tahun 2001 menjadi 67 tahun 2002 dari 80 negara yang diamati. Begitu juga daya saing ekonomi mikro yang turun dari 59 (2001) menjadi 64 (2002).

Hal ini karena perbaikan makro tidak menyentuh hal paling krusial, yaitu penciptaan lapangan kerja dan pemberantasan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi yang hanya tiga sampai empat persen tak cukup menampung angkatan kerja yang bertambah sekitar satu juta orang per tahun.

Menghadapi persaingan global dan desentralisasi ekonomi, perlu strategi khusus untuk meningkatkan daya saing Indonesia. Didik menyebutkan, strategi tersebut mencakup sinergi keterbukaan dan persaingan usaha dengan pemberdayaan ekonomi rakyat, pengembangan bisnis berbasis sumber daya alam, dan pengembangan industri dan perdagangan yang bernilai tambah.

“Semua strategi itu tak akan berjalan tanpa kebijakan yang tegas dari pemerintah untuk merevitalisasi sektor perbankan, infrastruktur, dan kerja sama yang lebih efektif antardaerah,” ujar Didik.(was) (Kompas.com/07/08/03)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: